Senin, 25 September 2017

SINETRON FIKSI JADUL DILAYAR KACA MASA KINI



Menarik sekali memperhatikan fenomena acara televisi sekarang, semakin hari semakin semarak, buah dari persaingan antar media TV yang menuntut pelaku kreatif (mereka menyebutnya) untuk lebih kreatif menghasilkan tontonan kepada masyarakat. Saking beratnya beban kerja mereka sampai-sampai kita tidak bisa membedakan antara keblinger dan kreatif, mulai dari Reallity Show yang tidak sesuai realita, acara humor yang menarik minat mahasiswa, sampai serial turkies dan hindustan dengan ribuan episodenya, yang menyita pula ribuan waktu emak-emak kita.

Akhir-akhir ini saya senang menyaksikan sinetron fiksi jadul yang kembali tayang dilayar TV kesayangan, seakan dihipnotis dengan hadirnya kembali Jin Cantik, Jin Tua, Tuyul baik,dan Duyung terdampar. Saya pikir kita diajak bernostalgia ke tahun 90an dimana tontonan tanpa sensor kasar seperti  sekarang menarik hati untuk dinikmati.

Hadirnya kembali sinetron fiksi tadi diera sekarang dengan aturan-aturan baru terhadap pertelevisian,

MERENUNGKAN KEBEBASAN

Kebebasan sebuah kata sederhana tapi rumit untuk dimaknai, jika Sartre bilang “Manusia dikutuk untuk bebas”, maka saya sepakat dengan hal itu kebebasan adalah sesuatu yang melekat alamiah setara melekatnya kutukan, bukan menjadi sebuah anugerah tapi kebebasan adalah takdir manusia.

Kebebasan hal sederhana kita pahami, manusia bebas untuk bertindak sebagai seorang individu, namun sesuatu yang sederhana itu menjadi rumit kita pahami ketika istilah kebebasan dipahami secara beragam oleh beberapa persfektif yang ada, sebut saja Marxisme dan Liberalisme.

Kebebasan menjadi alasan sebagai suatu cita-cita yang harus dicapai. Jika dibandingkan antara Marxisme dan Liberalisme tentang kebebasan, maka terdapat perbedaan antara bagaimana Marxis mengartikan kebebasan dan bagaimana Liberalis memandang kebebasan ?.
Dengan cara merenungkan kebebasan dari dua persfektif itu kita akan bertamasya bermain makna kebebasan individu sebagai manusia.

Marxis sebuah paham yang sudah ujur tetapi masih menarik untuk dipelajari sekedar menambah pengetahuan kita terhadap filsafat sosial, politik, dan ekonomi, yang sempat menghibur semesta ini dengan rentetan historisnya mulai dari Karl Marx, Lenin, Stalin, hingga Mao.

Minggu, 30 April 2017

Tentang Aku dan Hujan

Seperti hujan yang menerjang dan menyebar ditengah cacian
Seperti hujan yang lenyap dan menghilang diantara pencarian
Seperti aku hujan itu
yang lurus ditengah cacian dan sembunyi diantara pencarian

-Halim Ramdani (30 April 2016)

Rabu, 27 April 2016

NILAI DASAR PERJUANGAN (NDP) HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM







E.   

DAFTAR ISI
I.                    SEJARAH PERUMUSAN NDP
A.      Latar Belakang Disusunnya NDP
B.      Manifestasi Pemikiran Caknur
C.      Konseptor NDP
D.      Momentum Pengukuhan NDP dan Dinamika Pergantian Nama
E.       Definisi NDP
II.                  ISI NDP
III.                HUBUNGAN NDP DENGAN HMI
A.      Landasan Teologis
B.      Landasan Ideologis
IV.                INTI NDP (Makna Iman, Ilmu, Amal)



IKLAN ADALAH WAJAH PERUSAHAAN




Apa itu Iklan ?

Definisi mengenai iklan sangat beragam, ada yang berpendapat iklan adalah suatu tindakan-tindakan untuk mendorong pembeli agar tertarik dengan barang dan jasa yang ditawarkan, menurut pakar periklanan dari Amerika, S. William Pattis (1993) iklan adalah setiap bentuk komunikasi yang dimaksudkan untuk memotivasi dan mempromosikan produk dan jasa kepada seseorang atau pembeli yang potensial, tujuannya adalah mempengaruhi calon konsumen untuk berfikir dan bertindak sesuai dengan keinginan si pemasang iklan.

Banyak ahli memaknai iklan dalam beberapa pengertian. Ada yang mengartikan dalam sudut pandang komunikasi, psikologi, dll. Tetapi dalam dunia bisnis iklan dimaknai dalam perspektif pemasaran lebih menekankan pemaknaan iklan sebagai alat pemasaran.

Apa Fungsi Iklan Untuk Perusahaan ?

Sabtu, 20 Februari 2016

Puisi Setengah Cacat #8

Bukan Kesatria

oleh : Halim Ramdani

Aku bukan kesatria perkasa
yang mampu memeluk angin ketika angin datang

Aku bukan kesatria tangguh
yang cepat mengejar angin ketika angin berlari

Aku bukan kesatria hebat
yang berani menjemput angin dari pusara takdir

Aku bukan kesatria rupawan
yang menjanjikan singgasana indah untuk sang angin

Aku bukan kesatria
aku hanya laki-laki yang kehilangan angin.

Rabu, 17 Februari 2016

Puisi Setengah Cacat #7

Kuda Besi

satu warisan yang tak ternilai
kuda besi yang mulai berkarat
berubah rupa dimakan zaman
tapi tetap kuat berkelana

kuda besiku teman hidupku
kuda besiku perjuanganku

hitam pekat warna kulitmu
lincah gesit tangguh dijalanan
beribu jasa pengabdianmu
kuda besiku teruslah melaju

beribu hawa duduk dipelana
silih berganti untuk mencoba
hanya ada satu adam yang setia
ia lah pemilikmu yang mutlak